3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1 Subhan Munawar-SMAN 109 Jakarta CGP Angkatan 5

on Minggu, 23 Oktober 2022

3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1

Subhan Munawar-SMAN 109 Jakarta

CGP Angkatan 5

1.     Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

keputusan-keputusan yang diambil   seorang pemimpin yang meletakkan kepentingan murid sebagai yang utama seiring dengan filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara  Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, dengan berbekal karakter yang mulia. Sebagai seorang pemimpin seyogyanya mengambil keputusan agar tercipata suasana lingkungan sekolah yang  memfasilitasi murid di sekolah sepanjang hariyang  menuntun mereka untuk mencapai kodratnya,  membimbing mereka agar dapat mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi dalam dirinya setinggi- tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat, hingga dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaannyak. Karena  setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia, melalui pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin.

2.     Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, Guru Penggerak yang memiliki nilai ini, akan selalu mengambil suatu keputusan yang mendahulukan muridnya, seperti: “apa yang murid butuhkan?”, “apa yang bisa saya lakukan agar suasana belajar dan proses pembelajaran di sekolah ini lebih baik?”, “bagaimana saya dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi anak untuk mewujudkan dunia yang mereka idamkan,  

3.     Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Pengambilan keputusan sangat berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) karean berlatih membangun komunikasi yang empatik dan memberdayakan semua stake holder dengan mengambil keputusan dalam  membuat perubahan strategis yang mampu menggerakan komunitas sekolah pada ekosistem belajar , yang sejalan dengan semangat Merdeka Belajar untuk meningkatkan kualitas kurikulum (standar isi-standar proses-standar penilaian) yang bermakna dan kualitas sumber daya guru dan tenaga kependidikan dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid pada Satuan Pendidikan di sekolah dan daerah Anda. Dalam proses pengambilan keputusan,   keterampilan coaching, karena keterampilan ini membekali seorang guru untuk menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.

4.     Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationshipkills). Proses pengambilan keputusan seharusnya juga dilakukan dengan kesadaran penuh (mindful) dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.

5.     Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Nilai-nilai kebajikan yang terkandung di dalamnya, semakin diperlukan dalam dunia yang semakin beragam; hal ini berkaitan dengan sekolah sebagai ‘institusi moral’ yang dirancang untuk membentuk karakter setiap warganya. Sebagai sebuah institusi moral, sekolah adalah sebuah miniatur dunia yang berkontribusi terhadap terbangunnya budaya, nilai-nilai, dan moralitas dalam diri setiap murid. Perilaku warga sekolah dalam menegakkan penerapan nilai-nilai yang diyakini dan dianggap penting oleh sekolah, adalah teladan bagi murid. Kepemimpinan kepala sekolah tentunya berperan sangat besar untuk menciptakan sekolah sebagai institusi moral.

Dalam menjalankan perannya, tentu seorang pemimpin di sekolah akan menghadapi berbagai situasi dimana ia harus mengambil suatu keputusan dimana ada nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar, namun saling bertentangan. kita akan menyadari bahwa setiap pengambilan keputusan akan merefleksikan integritas sekolah tersebut, nilai-nilai apa yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan keputusan-keputusan yang diambil kelak akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah dan lingkungan sekitarnya.

6.     Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Dengan mendasarkan keputusan kita pada 3 unsur yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai- nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil, maka akan tercipta sebuah lingkungan yang menyenangkan, aman, nyaman untuk bertumbuh, serta dapat menjaga dan melindungi setiap murid dari hal-hal yang kurang bermanfaat, atau bahkan mengganggu perkembangan potensi murid. Dengan demikian, salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana mengambil keputusan yang tepat yang bisa menciptakan suatu lingkungan positif yang terdiri dari warga sekolah yang saling mendukung, saling belajar, saling bekerja sama sehingga tercipta kebiasaan-kebiasaan baik; dari kebiasaan-kebiasaan baik akan tumbuh menjadi karakter-karakter baik warga sekolah, dan pada akhirnya karakter-karakter dari kebiasaan-kebiasaan baik akan membentuk sebuah budaya positif.

7.     Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika, yaitu, Ketika harus mengambil keputusan  terhadap kasus saling bersinggungan yang semuanya mengandung nilai-nilai kebajikan yang tertuang dalam visi dan misi sekolah,  yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid. Jika ada dua kasus dilema etika yang sama-sama menyangkut kepentingan murid,  ada nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Hal ini sangat berkaitan dengan perubahan paradigma di lingkungan sekolah Dengan mendasarkan keputusan kita pada 3 unsur yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai- nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil,

8.     Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

keputusan-keputusan yang diambil   seorang pemimpin yang meletakkan kepentingan murid sebagai yang utama. pengambilan keputusan berperan besar dalam menentukan keberhasilan sekolah karena bisa  menyinergikan berbagai elemen di dalamnya. pengambilan keputusan yang berkualitas akan mampu memberdayakan murid-murid yang berkembang secara utuh, baik dalam rasa, karsa dan ciptanya. Tak dipungkiri, pengambilan keputusan pembelajaran yang tepat merupkan kunci dalam terwujudnya Profil Pelajar Pancasila untuk potensi murid kita yang berbeda-beda. pengambilan keputusan  berdasarkan Standar proses dan standar penilaian digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran dan penilaian yang efektif dan efisien sehingga mampu untuk mengembangkan potensi, prakarsa, kemampuan, dan kemandirian peserta didik secara optimal

9.     Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

     pemimpin pembelajaran berupaya untuk mengintegrasikan kehidupan keberlanjutan (sustainable living) pada berbagai kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai

dan perilaku yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bumi, misalnya menggunakan sumber daya secara bijak (hemat air, listrik, dll.), mengurangi sampah, dsb.

     pemimpin pembelajaran memotivasi peserta didik untuk menyadari bahwa masa depan adalah milik mereka dan mereka perlu mengambil peran dan tanggung jawab untuk masa depan mereka.

     pemimpin pembelajaran melibatkan peserta didik dalam mencari solusi- solusi permasalahan di keseharian yang sesuai dengan tahapan belajarnya.

     pemimpin pembelajaran memanfaatkan projek penguatan profil pelajar Pancasila untuk membangun karakter dan kompetensi peserta didik sebagai warga dunia masa depan

 

10.  Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

·    Seorang pemimpin hendaknya memahami nilai-nilai kebajikan yang tertuang dalam visi dan misi sekolah, berkepribadian serta berkinerja baik dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, khususnya dalam mengambil suatu keputusan, hendaknya setiap keputusan yang diambil tersebut selaras dengan nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi oleh suatu institusi tersebut, yaitu bertanggung jawab dan berpihak pada murid. Tentu seorang pemimpin di sekolah akan menghadapi berbagai situasi dimana ia harus mengambil suatu keputusan dimana ada nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar, namun saling bertentangan. Situasi seperti ini disebut sebagai sebuah dilema etika. kita perlu mendasarkan keputusan kita pada 3 unsur yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai- nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil.  Kemudian Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, Mengujian benar atau salah, Menguji Paradigma Benar lawan Benar berdasarkan 4 paradigma , Melakukan Prinsip Resolusi berdasarkan 3 prinsip, melakukan investigasi Opsi Trilema, membuat Keputusan melihat lagi Keputusan dan Refleksikan

·    Keterkaitan modul ini dengan modul lainnya,  keterkitan dengan modul 1.1 bahwa keputusan-keputusan yang diambil   seorang pemimpin yang meletakkan kepentingan murid sebagai yang utama Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia, melalui pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin.

·    keterkitan dengan modul 1.2 bahwa Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, Guru Penggerak yang memiliki nilai ini, akan selalu mengambil suatu keputusan yang mendahulukan muridnya.

·    Keterkitan dengan modul 1.3 bahwa Berkaitan dengan visi guru penggerak betapa pentingnya pendidik memiliki visi, dan mengembangkan visi untuk mewujudkan keberpihakan pada murid-murid di sekolah  sehingga mereka bertumbuh dengan maksimal., untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menggambil keputusan , berdasarkan nilai- nilai kebajikan universal.

·    Keterkitan dengan modul 1.4 bahwa  Dengan mendasarkan keputusan kita pada 3 unsur yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai- nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil, maka akan tercipta sebuah lingkungan yang menyenangkan, aman, nyaman untuk bertumbuh, serta dapat menjaga dan melindungi setiap murid dari hal-hal yang kurang bermanfaat, atau bahkan mengganggu perkembangan potensi murid. Dengan demikian, salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana mengambil keputusan yang tepat yang bisa menciptakan suatu lingkungan positif yang terdiri dari warga sekolah yang saling mendukung, saling belajar, saling bekerja sama sehingga tercipta kebiasaan-kebiasaan baik; dari kebiasaan-kebiasaan baik akan tumbuh menjadi karakter-karakter baik warga sekolah, dan pada akhirnya karakter-karakter dari kebiasaan-kebiasaan baik akan membentuk sebuah budaya positif. 

·    Keterkitan dengan modul 2.1 bahwa Setiap murid yang duduk di kelas kita adalah individu yang unik dan Dengan keberagaman murid-murid tersebut, maka kita harus menyediakan layanan pendidikan yang memungkinkan semua murid  berpartisifasi aktif dalam pembelajaran secara efektif sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena setiap murid memiliki pola belajarnya sendiri yang unik. Oleh karena itu diperlukan penyesuaian pembelajaran, yang disertai bersikap adil yang tidak menyamaratakan perlakuan kepada semua murid, yang ditambah dukungan dari komunitas yang lebih besar untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung semua murid. Hal tersebut dilakukan melalui Pembelajaran Berdiferensiasi  sebagai usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Sehingga   semua murid  bisa berhasil dan sukses dalam pembelajarannya. meyakini bahwa setiap anak adalah unik, maka sebagai pendidik, kita semua juga tentu harus membuka mata terhadap adanya mengambil keputusan keberagaman murid-murid di kelas dengan melakukan dengan pembelajaran berdiferensiasi

·    Keterkitan dengan modul 2.2 bahwa untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationshipkills). Proses pengambilan keputusan seharusnya juga dilakukan dengan kesadaran penuh (mindful) dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.

·    Keterkitan dengan modul 2.3 bahwa pengambilan keputusan sangat berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) karean berlatih membangun komunikasi yang empatik dan memberdayakan semua stake holder dengan mengambil keputusan dalam  membuat perubahan strategis yang mampu menggerakan komunitas sekolah pada ekosistem. Dalam proses pengambilan keputusan,   keterampilan coaching, karena keterampilan ini membekali seorang guru untuk menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.

 

11.  Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

·      pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

1)       Individu lawan kelompok (individual vs community) Paradigma ini, bisa juga berhubungan dengan konflik antara kepentingan pribadi lawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil lawan kelompok besar.

2)       Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) Kita bisa memilih untuk berlaku adil dengan memperlakukan hal yang sama bagi semua orang, atau membuat pengecualian dengan alasan kemurahan hati dan kasih sayang.

3)       Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty). . Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita akan menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

4)       Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) Seringkali kita harus memilih keputusan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini atau yang terbaik untuk masa yang akan datang.

·      prinsip Pengambilan keputusan

1.      Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking)

2.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.      Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

 

·      Langkah pengambilan keputusan

1.       Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.       Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.       Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4.       Pengujian benar atau salah

5.       Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

6.       Melakukan Prinsip Resolusi

7.       Investigasi Opsi Trilema

8.       Buat Keputusan

9.       Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

 

12.  Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah melalui kegiatan identifikasi awal terhadap unit permasalahan, merumuskan tujuan penyelesaian masalah, identifikasi berbagai alternatif solusi, menentukan kriteria pemilihan alternatif solusi, dan menentukan pilihan alternatif solusi sehingga menjadi kumpulan keputusan atau kebijakan. Bedanya tidak secara detail menganalisis nilai-nilai yang saling bertentangan, pengujian benar atau salah, Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, Melakukan Prinsip Resolusi,

13.  Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Sangat berdampak  sekali. Sebelum mempelajari modul ini dalam pengambilan keputusan belum sepenuhnya mengidentifikasi suatu masalah. Stelah mempelajari modul ini, terdorong untuk berkepribadian serta berkinerja baik dalam melaksanakan tugas kepemimpinan dalam pembelajaran, khususnya dalam mengambil suatu keputusan, hendaknya setiap keputusan yang diambil tersebut selaras dengan nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi oleh suatu institusi, yaitu bertanggung jawab dan berpihak pada murid.  Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, Mengujian benar atau salah, Menguji Paradigma Benar lawan Benar, Melakukan Prinsip Resolusi, melakukan investigasi Opsi Trilema, membuat Keputusan melihat lagi Keputusan dan Refleksikan

14.  Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting agar bisa menyinergikan berbagai elemen di dalam institusi dan  mampu memberdayakan seluruh sumber daya di ekosistem sekolahnya hingga dapat bersatu padu menumbuhkan murid-murid yang berkembang secara utuh, baik dalam rasa, karsa dan ciptanya.  memiliki kompetensi dalam pengembangan diri dan orang lain, pengembangan pembelajaran, manajemen sekolah serta pengembangan sekolah,  mengambil suatu keputusan, khususnya pada kasus-kasus yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan atau Etika. , khususnya studi kasus di mana dua kepentingan sama-sama benar, sama-sama memiliki nilai-nilai kebajikan. Selanjutnya keputusan-keputusan yang diambil secara langsung atau tidak, menentukan arah dan tujuan suatu institusi atau lembaga serta menunjukkan nilai-nilai atau integritas dari institusi tersebut, yang pada akhirnya berpengaruh kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid-murid Anda sekalian.

  

PENGUMUMAN KEGIATAN PAI SMAN 109 JAKARTA

on Jumat, 27 Mei 2016

Pengumuman!
Kepada
Yth. Bapak Ibu Orang Tua Peserta Didik SMAN 109 Jakarta

Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.


Sebagai usaha untuk menanamkan akhlakul karimah peserta didik dalam ketaatan beribadah. Dengan ini kami memohon kerjasama dengan Bapak/Ibu orang tua peserta didik, untuk senantiasa memonitor kegiatan shalat putera-puteri Bapak/ibu, melalui penggunaan buku kegiatan shalat harian, yang sudah kami berikan kepada peserta didik. Dan untuk melengkapi pengawasannya, kami memohon Bapak/Ibu untuk selalu memberikan paraf pada buku tersebut setiap harinya. 
Demikian pengumuman ini kami sampaikan.  Atas perhatian Bapak Ibu, kami ucapkan terima kasih.

Wassalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. 

Guru Mapel PAI



Subhan Munawar, S.Pd.I 
NIP 198402132015041001